Honda XL 125   14 comments

Ini adalah penampakan Honda XL 125, yang katanya masuk ke Indonesia hanya dalam kepentingan “bantuan” pemerintah kepada dinas-dinas terkait pada jaman dulu. Pada beberapa daerah, biasanya dibilang motor mantri. Julukan motor mantri ini dikarenakan pada tahun 1970-an akhir, sering dipakai berdinas oleh para penyuluh pertanian ya dibilang mantri. Ada pula yang menyebut ini motor dinas pertanian.

Secara fisik, pemakaian ring ban 18 belakang dan ring 21 pada depan, Dilengkapi pemakaian kembangan ban dual purpose untuk jalan raya dan tanah, menyiratkan bahwa motor ini bertipikal semi offroad. Motor ini tambah terlihat tinggi karena batangan peredam kejut di depan, dan shockbreaker belakang lebih panjang dari pada saudara nya Honda CB 100,125 yang telah hadir sebelumnya di Indonesia.

485782_2388478486990_617109497_n Secara lebih detail spesifikasi dari Honda XL 125 yang masuk ke Indonesia bisa dilihat pada gambar terlampir di samping ini. Gambar ini merupakan copy/scan dari surat Departemen Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jendral Bea dan Cukai. Di surat ini tertulis Tipe Honda XL 125 K3, dengan tahun pembuatan 1977. Tidak heran, kadang pada penyebutan Honda XL 125 ditambahkan keterangan tahun 1977 menjadi “Honda XL 125 ’77. Hal ini hanya untuk membedakan dengan varian lain dari Honda XL 125 yang mempunya 6 percepatan, yaitu Honda XL 125s (ada kode s di belakang 125).

Di dalam surat ini tertera, jumlah Honda XL 125 yang masuk dalam rangka “Proyek Aid” tertulis 736 unit. Bisa dibilang edisi terbatas di Indonesia, atau boleh dikata sedikit banget, dibandingkan dengan Honda CB 100,125 yang dijual secara komersial di Indonesia. Tak heran, jika Honda CB sangat familiar dengan masyarakat Indonesia sejak dulu hingga sekarang.

Jika orang awam, tentulah mengira Honda XL 125 ini adalah hasil modifikasi dari Honda CB yang dibuat semi trail. Tetapi jika, Anda jeli maka secara fisik jelas terlihat perbedaannya. mulai dari rangka, tangki, kenalpot, dan segala aksesoris pendukung lainnya.
Selain Honda XL 125, masih ada tipe Honda XL yang masuk, yaitu Honda XL 100. Hadirnya Honda XL 100 ke Indonesia ini minim informasi. Salah satu pemilik Honda XL 100 yang pernah saya gali informasinya motor ini, salah satu motor operasional PBB (UN). Ia masih menyimpan tanda bukti kesahihan bahwa ini adalah bantuan dari PBB.

Motor yang terpampang di awal artikel ini, itulah motor yang saya pakai wira wiri. Tidak bersurat aslinya, melainkan sudah “tempelan” Honda CB 125. Tapi tak apalah, asalkan bisa menunggangi motor jenis ini.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Jadi yang ingin memiliki honda XL, silahkan meramaikan perburuan. Berburu sampai pelosok nusantara. atau sekarang sudah banyak jasa modifikasi yang yahud untuk memuaskan selera pelanggan. Atau jika ingin sekadar memantau perkembangan jual beli motor dan sukucadangnya, bisa bergabung ke Grup Honda XL Indonesia dan Trail Classic Corner

Jika ada para pembaca yang mempunyai pengalaman tentang Honda XL 125 ini, silahkan di share di kolom komentar. Salam

balada sebuah jaket   Leave a comment

Awal November 2011 saya putuskan untuk melipat dan menyimpannya baik baik dalam lemari saya. Jaket dengan logo segitiga biru di dada kiri ini menjadi pemenang dengan menyabet kategori ter-awet. Kompetitornya adalah backpack, jam tangan, sepatu. Sepatu yang sering kali hilang dan yang nomor dua adalah backpack. Jam tangan pernah hilang dan ajaib ditemukan oleh seseorang dan dikembalikan ke pemiliknya yang sah. Sandal? Itu jangan ditanya, kalau dikampus, sandal yang paling sering hilang. Paling banter 3 bulan.

Kira-kira hampir 11 tahun jaket ini dipaksa untuk melindungi saya dari sayatan dingin dan tamparan mentari. Setidaknya jeket ini memberikan kenyamanan dan kelembaban pada kulit (ha ha ha kayak iklan lotion aja).

Kembali lagi ke awal mengapa saya putuskan untuk memensiunkan jaket ini? Tidak lain dan tidak bukan karena kainnya sudah tepo alias rapuh. Ya itu karena terkena oksidasi, polusi dan aktivitas yang tak terhitung dalam rentang 11 tahun itu.

Sebenarnya, kalau jaket ini bisa ngomong, mungkin akan mengajukan pengunduran diri lebih awal. Mengingat sudah beberapa kali di bagian bagian tertentu sobek. Pernah kena knalpot motor, saat dipinjam teman saya. Akhirnya bolong di bagian lengan dan ditambal lah jaket ini. Setelah beberapa tahun setelahnya, saya baru menyadari bahwa di bagian lengan bawah ada bagian yang sobek2 kecil.

Yang terakhir terjadi pas saya ingin berangkat beraktivitas, eh ternayata bunyi krek…..nah lo baru deh ketauan kalau jaket ini memaksa untuk berhenti dipakai.

Saya ucapkan terimakasih untuk jaket ini. kamu memang layak diberikan ucapan terima kasih. “terima kasih jaket. terima kasih jaket”

Posted 5 November 2011 by Ginanjar Dimas Agung in Uncategorized

Tagged with , , , , , , , , , ,

Akhirnya Dialog sama Setiawan Djody Juga! Asik   5 comments

Bingung kan kenapa Saya bisa ber-Dialog dengan Setiawan Djody? Dialog yang Saya maksud adalah mendengarkan lagu-lagu di albumnya Setiawan Djody yang bertitel “Dialog”. Album ini, direlease tidak jauh setelah Konser Kantata Takwa yang jaman dulu sempat digandrungi oleh kaum muda.

Isinya, secara umum tidak berbeda jauh dengan group Kantata Takwa, album Dialog berisi kritik social, tentang dunia “masyarakat bawah” yang bergeliat mencari rejeki. Beberapa musisi yang terlibat didalamnya sebagian besar berasal dari Kantata Takwa, dan hal ini yang membuat kualitas musiknya pun bisa dibilang lumayan, juga tentunya tiap lagu didominasi oleh raungan gitarnya Setiwan Djody.

Dari beberapa lagu yang disajikan, Saya sempat terheran-heran, pasalnya, lagu yang berjudul Ruang dan Waktu nuansa musiknya kental Hardcore-nya, Raungan gitar yang berat, irama yang cepat dan alunan vocal Yockie Suryo Prayogo rada-rada hardcore-underground itu lho, sip pokonya. Selain itu, lagu-lagu lainnya juga nggak kalah sip, plus lagu instrumental berjudul Mentari dan Cakrawala.

Meskipun ini seakan-akan proyek ego seorang Setiawan Djody, ia tetap memberikan komposisi yang “adil” dan memersilahkan tiap musisi menunjukkan keistimewaan keahliannya masing-masing. Setiawan Djody sendiri hanya menyanyikan beberapa lagu, pun di beberapa lagu dia hanya mengisi narasi-prosa yang bertema kemanusiaan, kebangsaan dan keimanan.

Kilas Balik
Album ini sempat saya “konsumsi” kira-kira kelas 6 SD. Kebetulan kakak saya yang demam mengoleksi kaset-kaset, salah satunya adalah album Dialog-nya Setiawan Djody. Selang beberapa lama, kasetpun tidak terurus lantaran, rumah remuk redam diacak-acak oleh keponakan dan berujung pada kusutnya kaset sehingga tak bisa terselamatkan.
“Kaset rusak = Gak bisa dengerin lagi lagunya.” Pasrah aja deh, semoga kelak menemukan album ini. Meskipun pasrah, usaha tetap dilakukan. Sejak kuliah pada tahun 2002 Saya secara kontinyu sambil berikhtiar, “ayo dong ketemu!” mencari album ini, mulai dari menyisir gelaran atau penjual kaset bekas di pasar-pasar loak, menjelajah dunia maya via google dengan link Setiawan+Djody+Dialog+Download tetapi belum ketemu juga. Saya pernah berniat ingin mengontak Setiawan Djody untuk secara khusus “meminta” atau membeli album ini, siapa tahu masih ada stok di gudangnya. Tapi usaha terakhir yagn saya sebutkan gak kesampean, lantaran gak punya kontak hp, telpon, e-mail dll. Dalam hati, Saya yakin suatu saat pasti ketemu.

AKhirnya keyakinan Saya tertebus juga. Pada 17-6-2011 malam, saya menemukan link unduhannya di situs www.borneoclassicrock.blogspot.com.Tentu saja saya girang. Pasalnya, album Dialog adalah bagian masa lalu Saya. Mendengarkan lagu ini seakan-akan mengais-ngais masa lalu.

Berdasarkan pada tahun produksi, album ini memang keluaran lawas. Meskipun begitu, jika ditilik pada sisi tema yang diangkat bisa dibilang masih sesuai dengan konteks saat ini. Mendengarkan lagu ini, layaknya kita berdialog dengan Setiawan Djody, dan dia sepertinya juga ingin berdialog dengan kita, tentang apa yang kita rasakan saat ini melihat keadaan sekeliling kita. Mari ber-Dialog.

NB:

1. silahkan berkunjung ke link ini: http://borneoclassicrock.blogspot.com/2010/12/setiawan-djody-dialog.html
ini passwordnya kalo buka file nya: RYL’s-KARIM’s COLLECTIONS

2. karena ada yang menanyakan link download dan entak kenapa tidak bisa mendownloadnya maka bisa mampir ke 4shared saya http://www.4shared.com/rar/xI62Ok9Kce/SETIAWAN_DJODY_-_DIALOG.html

 

silahkan menikmati

Dasar Fans Munafik   2 comments

Terus terang saya sempat emosi ketika Indonesia kebobolan 3 gol dikandang Malaysia pada leg 1 final AFF 2010.
Emosi lantaran sudah ke-gol-an 3 eh ditambah sebagian besar update status facebook menyalahkan tim Indonesia.
coba simak ini beberapa status yang saya comot dar FB
“Penonton kcewa”
“mampus lw….itu doa2nya warga indonesia yg tdk dapet tiket karna curangnya pembelian tiket oleh panitia…….wkwkwkwkwkaaaaaakkkkkkk”
“Bambang2,,buang2 kentut aj lu gini hr br msk,..mn bs kekejar malaysia,.”
“Untung ga jd beli tiket Final AFF.. Weleeh2.. Indonesia kenapa ini.. :(”
“” terlalu banyak pujian..terlalu sering masuk inpotainment..akhirnya garuda meringkuk kembali…””
“hahaa..indon suka lebay sih jd kalah dah..”
“HARI INI PASTI MENANGGGGGG….. (Kepedean orang Indonesia) Gak ada yang pasti bro kecuali Tuhan hanya satu…”
“:mental dan determinasi kemana kau perginya…kalau ternyata gagal memertunjukkan sepakbola menyerang yang dominan lagi cantik, kenapa tidak main taktis ngejar 0-0. kalo sdh seperti kan susah kan jadinya…3-0 itu sdh bukan kalah, tapi memermalukan bangsa…the bubble has blown…” Baca entri selengkapnya »

Mbah, Selamat Jalan   1 comment

Rabu pagi, 27 Oktober 2010, kira-kira pukul 18.00 Saya terbangun karena tanda sms yang menyeruak dari telepon genggam. Pesan dari salah satu teman saya berbunyi, “Berita duka, Mak Pudjo meninggal dunia, semoga diberi kemudahan oleh Allah, dan diberi terang jalan beliau.”

Mak Pudjo, (kiri) yang memakai topi kompeni krem bersama Pak Pudjo (kanan) yang memakai blangkon merah marun di barisan depan.

SMS tersebut saya baca dengan seksama -lantaran baru sadar dari tidur yang belum pulas memantau berita Merapi lewat TV, Facebook dan sms – barangkali Saya salah baca. Setelah menutup SMS tersebut, Saya langsung mengontak teman-teman yang juga memantau di lapangan dan rumah sakit ternyata berita tentang meninggalnya Mak Pudjo itu benar adanya.

Saya benar-benar merasa kehilangan, mungkin teman yang lain, khususnya mapala di DIY juga merasa kehilangan lantaran sudah menganggap Mak Pudjo adalah ibu sendiri – atau juga mbah sendiri.

Meskipun hati masih sanksi atas kepergian Mak Pudjo, tetapi ada perasaan sedih yang mendalam ketika ingatan tentang Mak Pudjo tiba-tiba terngiang di depan mata. Ingatan ketika Mak Pudjo membuatkan kopi atau mie rebus/goreng. Baca entri selengkapnya »

Batik Primadona Indonesia   2 comments

Siapa yang tidak mengenal batik? Lembaran kain bermotif alam dengan tingkat kerumitan dan warna tertentu dipakai mulai dari tukang becak, peragawati, hingga pejabat tinggi negara baik presiden atau pun tamu luar negeri yang datang ke Indonesia. Batik pun dapat kita temui dengan mudah di gang-gang sempit pasar tradisional, boutique, ataupun rumah mode kelas atas dengan berbagai macam pola dan bentuk.

Oleh : Ginanjar Dimas Agung

men-chanting batik

membatik

Salah satu saksi bisu perkembangan batik di Jogjakarta adalah Koperasi Senopati. Berdiri sejak tahun 1960-an dengan pelayanan utama menyediakan keperluan pembuatan batik dengan menjual bahan-bahan batik kepada anggotanya. Saat ini anggota yang bertahan sekitar 120-an anggota aktif. Biasanya para anggota aktif ini membeli bahan-bahan batik yang biasa dipakai dalam produksi batik (bumbu batik) yaitu kain, malam/ lilin, parafin, damar dan gondorukem. Ahmad Bintarto adalah salah satu pengurus koperasi Senopati mengungkapkan bahwa masa kejayaan batik tidak secemerlang dulu. Hadirnya batik printing yang merajai pasar memberikan pengaruh pada produksi batik lokal. “Dulu anggota koperasi ini (Koperasi Senopati) berjumlah 300-an, tetapi kini menyusut hampir dari setengahnya,” papar Bintarto.

Baca entri selengkapnya »

Indonesia Negara Duplikat   Leave a comment

Pantas saja kita menjadi negara duplikat, Lha benderanya nya aja bendera duplikat. -Tau dari mana?- coba ingat ingat para komentator TV yang menyiarkan upacara detik-detik proklamasi berkata ; sang presiden menyerahkan duplikat bendera pusaka merah putih.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan duplikat Bendera Pusaka kepada Arty Ardhila (kanan) untuk dikibarkan pada upacara Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 65 di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/8). FOTO ANTARA/Pandu Dewantara (ini tags yang dilampirkan dibawah foto oleh seorang pewarta foto dari antara)

Persepsi masyrakat pun mempunyai kemiripan yang senada, yakni memaknai bendera yang dikibarkan dan dihormati oleh presiden, tamu negara dan para peserta upacara di Istana Merdeka hanyalah BENDERA DUPLIKAT. hahahahahahaha -kasian deh lo menghormati yang dupliat-

Lantas yang mana yang asli? yang asli itu ada di dalam sanubari kita. Apa susahnya sih menyebut “Presiden menyerahkan bendara Indonesia untuk dikibarkan” atau “menghilangkan kata embel2 duplikat pada sang saka merah putih itu”

Jadi kan lebih enak di dengar. tidak ada yang asli atau palsu, tapi yang ada hanya satu Bendera yaitu Bendera Indonesia.

Dirgahayu Indonesia. Semoga tetap Merdeka

%d blogger menyukai ini: