Terus terang saya sempat emosi ketika Indonesia kebobolan 3 gol dikandang Malaysia pada leg 1 final AFF 2010.
Emosi lantaran sudah ke-gol-an 3 eh ditambah sebagian besar update status facebook menyalahkan tim Indonesia.
coba simak ini beberapa status yang saya comot dar FB
“Penonton kcewa”
“mampus lw….itu doa2nya warga indonesia yg tdk dapet tiket karna curangnya pembelian tiket oleh panitia…….wkwkwkwkwkaaaaaakkkkkkk”
“Bambang2,,buang2 kentut aj lu gini hr br msk,..mn bs kekejar malaysia,.”
“Untung ga jd beli tiket Final AFF.. Weleeh2.. Indonesia kenapa ini..
“
“” terlalu banyak pujian..terlalu sering masuk inpotainment..akhirnya garuda meringkuk kembali…”"
“hahaa..indon suka lebay sih jd kalah dah..”
“HARI INI PASTI MENANGGGGGG….. (Kepedean orang Indonesia) Gak ada yang pasti bro kecuali Tuhan hanya satu…”
“:mental dan determinasi kemana kau perginya…kalau ternyata gagal memertunjukkan sepakbola menyerang yang dominan lagi cantik, kenapa tidak main taktis ngejar 0-0. kalo sdh seperti kan susah kan jadinya…3-0 itu sdh bukan kalah, tapi memermalukan bangsa…the bubble has blown…”
Waduh, pantes aja indonesia kalah. lah gak didukung sama fans fanatik. Kalou menang di bela. Tapi kalou kalah, malah ditinggal. Lalu hengkang dan cari kambing hitam atas kekalahan. kepedean lah, sok ngartis lah. “mudah mudahan tidak terpancing laser Malaysia”, kalau memang Anda begitu. Maka pantas lah Anda saya maki-maki “DASAR FANS MUNAFIK!”
Kalah sih ya tetap kalah, tapi ini sportifitas. Walaupun kalah kita masih ada di belakang mereka. “slalu mendukungmu”
timnas garuda memang penuh tekanan, dan menanggung beban. Ya, beban itu adalah harapan rakyat Indonesia. Eh malah ketika ke bobolan kita hanya bisa memaki, menyalahkan. Memangnya timnas garuda itu siapa? kacung? babu? TKI? yang selama ini disuruh-suruh untuk menanggung beban majikannya.
Kalau mau menyalahkan ya sistem kompetisi dan regenerasi persepak bolaan Indonesia. Kita juga yang harus disalahkan karena tidak loyal pada pada timnas Garuda. Kita juga yang harus disalahkan karena tidak belajar dari Malaysia. Kemenangan mereka hari ini (26/12/2010) bukan hasil kerja simsalabim. bukan membangun istana dalam sekajap mata. Pemain Malaysia bisa menang karena hasil tetes keringat beberapa tahun lalu. Mereka mempersiapkan kemenangan hari ini sejak 5 tahun lalu, bahkan lebih.
Ini memang ajaibnya “kita”. Baru mau tanding di final saja, langsung ada istigosah buat pemain timnas atau para pengusaha yang juga politisi akan berjanji untuk membuatkan lapangan. Sikap pragmatis kita yang sering membuat jalan pintas. masih pantaskah kita menyandang nama “Bangsa Indonesia”?
Hal ini membuat saya berkaca pada pepatah lama “lebih baik berkawan dengan musuh yang pintar daripada berkawan dengan teman yang bodoh”. Mungkin benar adanya kalau Malaysia enggan berkawan dengan kita. Kalau kalah ya memang kalah. Akui kalah dan mereka memang lebih hebat dari kita. Mengakui kekalahan dan kesalahan memang berat kawan. Memang melalui kemenangan timsa adalah suatu “oase” pemersatu bangsa yang sedang dilandan manuver dan intrik politik berorientasi kekuasaan dan uang. tetapi yang juga akan mempererat kita adalah kekalahan.
Tapi bagi saya hanya ada “you’re never walk alone” Garuda tetap di dadaku



kalo menurut saya sih memang pendapat diatas ada benernya, media terlalu lebay dan mebesar-besarkan timnas, selain itu timnas tadi bermain bagus, cuma walk-outnya otomatis membuyarkan konsentrasi pemain yang lagi bagus-bagusnya,,,
sip buat Mercon C a.k.a Mercon Mretelli