balada sebuah jaket

Awal November 2011 saya putuskan untuk melipat dan menyimpannya baik baik dalam lemari saya. Jaket dengan logo segitiga biru di dada kiri ini menjadi pemenang dengan menyabet kategori ter-awet. Kompetitornya adalah backpack, jam tangan, sepatu. Sepatu yang sering kali hilang dan yang nomor dua adalah backpack. Jam tangan pernah hilang dan ajaib ditemukan oleh seseorang dan dikembalikan ke pemiliknya yang sah. Sandal? Itu jangan ditanya, kalau dikampus, sandal yang paling sering hilang. Paling banter 3 bulan.

Kira-kira hampir 11 tahun jaket ini dipaksa untuk melindungi saya dari sayatan dingin dan tamparan mentari. Setidaknya jeket ini memberikan kenyamanan dan kelembaban pada kulit (ha ha ha kayak iklan lotion aja).

Kembali lagi ke awal mengapa saya putuskan untuk memensiunkan jaket ini? Tidak lain dan tidak bukan karena kainnya sudah tepo alias rapuh. Ya itu karena terkena oksidasi, polusi dan aktivitas yang tak terhitung dalam rentang 11 tahun itu.

Sebenarnya, kalau jaket ini bisa ngomong, mungkin akan mengajukan pengunduran diri lebih awal. Mengingat sudah beberapa kali di bagian bagian tertentu sobek. Pernah kena knalpot motor, saat dipinjam teman saya. Akhirnya bolong di bagian lengan dan ditambal lah jaket ini. Setelah beberapa tahun setelahnya, saya baru menyadari bahwa di bagian lengan bawah ada bagian yang sobek2 kecil.

Yang terakhir terjadi pas saya ingin berangkat beraktivitas, eh ternayata bunyi krek…..nah lo baru deh ketauan kalau jaket ini memaksa untuk berhenti dipakai.

Saya ucapkan terimakasih untuk jaket ini. kamu memang layak diberikan ucapan terima kasih. “terima kasih jaket. terima kasih jaket”

Akhirnya Dialog sama Setiawan Djody Juga! Asik

Bingung kan kenapa Saya bisa ber-Dialog dengan Setiawan Djody? Dialog yang Saya maksud adalah mendengarkan lagu-lagu di albumnya Setiawan Djody yang bertitel “Dialog”. Album ini, direlease tidak jauh setelah Konser Kantata Takwa yang jaman dulu sempat digandrungi oleh kaum muda.

Isinya, secara umum tidak berbeda jauh dengan group Kantata Takwa, album Dialog berisi kritik social, tentang dunia “masyarakat bawah” yang bergeliat mencari rejeki. Beberapa musisi yang terlibat didalamnya sebagian besar berasal dari Kantata Takwa, dan hal ini yang membuat kualitas musiknya pun bisa dibilang lumayan, juga tentunya tiap lagu didominasi oleh raungan gitarnya Setiwan Djody.

Dari beberapa lagu yang disajikan, Saya sempat terheran-heran, pasalnya, lagu yang berjudul Ruang dan Waktu nuansa musiknya kental Hardcore-nya, Raungan gitar yang berat, irama yang cepat dan alunan vocal Yockie Suryo Prayogo rada-rada hardcore-underground itu lho, sip pokonya. Selain itu, lagu-lagu lainnya juga nggak kalah sip, plus lagu instrumental berjudul Mentari dan Cakrawala.

Meskipun ini seakan-akan proyek ego seorang Setiawan Djody, ia tetap memberikan komposisi yang “adil” dan memersilahkan tiap musisi menunjukkan keistimewaan keahliannya masing-masing. Setiawan Djody sendiri hanya menyanyikan beberapa lagu, pun di beberapa lagu dia hanya mengisi narasi-prosa yang bertema kemanusiaan, kebangsaan dan keimanan.

Kilas Balik
Album ini sempat saya “konsumsi” kira-kira kelas 6 SD. Kebetulan kakak saya yang demam mengoleksi kaset-kaset, salah satunya adalah album Dialog-nya Setiawan Djody. Selang beberapa lama, kasetpun tidak terurus lantaran, rumah remuk redam diacak-acak oleh keponakan dan berujung pada kusutnya kaset sehingga tak bisa terselamatkan.
“Kaset rusak = Gak bisa dengerin lagi lagunya.” Pasrah aja deh, semoga kelak menemukan album ini. Meskipun pasrah, usaha tetap dilakukan. Sejak kuliah pada tahun 2002 Saya secara kontinyu sambil berikhtiar, “ayo dong ketemu!” mencari album ini, mulai dari menyisir gelaran atau penjual kaset bekas di pasar-pasar loak, menjelajah dunia maya via google dengan link Setiawan+Djody+Dialog+Download tetapi belum ketemu juga. Saya pernah berniat ingin mengontak Setiawan Djody untuk secara khusus “meminta” atau membeli album ini, siapa tahu masih ada stok di gudangnya. Tapi usaha terakhir yagn saya sebutkan gak kesampean, lantaran gak punya kontak hp, telpon, e-mail dll. Dalam hati, Saya yakin suatu saat pasti ketemu.

AKhirnya keyakinan Saya tertebus juga. Pada 17-6-2011 malam, saya menemukan link unduhannya di situs www.borneoclassicrock.blogspot.com.Tentu saja saya girang. Pasalnya, album Dialog adalah bagian masa lalu Saya. Mendengarkan lagu ini seakan-akan mengais-ngais masa lalu.

Berdasarkan pada tahun produksi, album ini memang keluaran lawas. Meskipun begitu, jika ditilik pada sisi tema yang diangkat bisa dibilang masih sesuai dengan konteks saat ini. Mendengarkan lagu ini, layaknya kita berdialog dengan Setiawan Djody, dan dia sepertinya juga ingin berdialog dengan kita, tentang apa yang kita rasakan saat ini melihat keadaan sekeliling kita. Mari ber-Dialog.

By Ginanjar Dimas Agung

Dasar Fans Munafik

Terus terang saya sempat emosi ketika Indonesia kebobolan 3 gol dikandang Malaysia pada leg 1 final AFF 2010.
Emosi lantaran sudah ke-gol-an 3 eh ditambah sebagian besar update status facebook menyalahkan tim Indonesia.
coba simak ini beberapa status yang saya comot dar FB
“Penonton kcewa”
“mampus lw….itu doa2nya warga indonesia yg tdk dapet tiket karna curangnya pembelian tiket oleh panitia…….wkwkwkwkwkaaaaaakkkkkkk”
“Bambang2,,buang2 kentut aj lu gini hr br msk,..mn bs kekejar malaysia,.”
“Untung ga jd beli tiket Final AFF.. Weleeh2.. Indonesia kenapa ini.. :(
“” terlalu banyak pujian..terlalu sering masuk inpotainment..akhirnya garuda meringkuk kembali…”"
“hahaa..indon suka lebay sih jd kalah dah..”
“HARI INI PASTI MENANGGGGGG….. (Kepedean orang Indonesia) Gak ada yang pasti bro kecuali Tuhan hanya satu…”
“:mental dan determinasi kemana kau perginya…kalau ternyata gagal memertunjukkan sepakbola menyerang yang dominan lagi cantik, kenapa tidak main taktis ngejar 0-0. kalo sdh seperti kan susah kan jadinya…3-0 itu sdh bukan kalah, tapi memermalukan bangsa…the bubble has blown…” Continue reading

Mbah, Selamat Jalan

Rabu pagi, 27 Oktober 2010, kira-kira pukul 18.00 Saya terbangun karena tanda sms yang menyeruak dari telepon genggam. Pesan dari salah satu teman saya berbunyi, “Berita duka, Mak Pudjo meninggal dunia, semoga diberi kemudahan oleh Allah, dan diberi terang jalan beliau.”

Mak Pudjo, (kiri) yang memakai topi kompeni krem bersama Pak Pudjo (kanan) yang memakai blangkon merah marun di barisan depan.

SMS tersebut saya baca dengan seksama -lantaran baru sadar dari tidur yang belum pulas memantau berita Merapi lewat TV, Facebook dan sms – barangkali Saya salah baca. Setelah menutup SMS tersebut, Saya langsung mengontak teman-teman yang juga memantau di lapangan dan rumah sakit ternyata berita tentang meninggalnya Mak Pudjo itu benar adanya.

Saya benar-benar merasa kehilangan, mungkin teman yang lain, khususnya mapala di DIY juga merasa kehilangan lantaran sudah menganggap Mak Pudjo adalah ibu sendiri – atau juga mbah sendiri.

Meskipun hati masih sanksi atas kepergian Mak Pudjo, tetapi ada perasaan sedih yang mendalam ketika ingatan tentang Mak Pudjo tiba-tiba terngiang di depan mata. Ingatan ketika Mak Pudjo membuatkan kopi atau mie rebus/goreng. Continue reading

Batik Primadona Indonesia

Siapa yang tidak mengenal batik? Lembaran kain bermotif alam dengan tingkat kerumitan dan warna tertentu dipakai mulai dari tukang becak, peragawati, hingga pejabat tinggi negara baik presiden atau pun tamu luar negeri yang datang ke Indonesia. Batik pun dapat kita temui dengan mudah di gang-gang sempit pasar tradisional, boutique, ataupun rumah mode kelas atas dengan berbagai macam pola dan bentuk.

Oleh : Ginanjar Dimas Agung

men-chanting batik

membatik

Salah satu saksi bisu perkembangan batik di Jogjakarta adalah Koperasi Senopati. Berdiri sejak tahun 1960-an dengan pelayanan utama menyediakan keperluan pembuatan batik dengan menjual bahan-bahan batik kepada anggotanya. Saat ini anggota yang bertahan sekitar 120-an anggota aktif. Biasanya para anggota aktif ini membeli bahan-bahan batik yang biasa dipakai dalam produksi batik (bumbu batik) yaitu kain, malam/ lilin, parafin, damar dan gondorukem. Ahmad Bintarto adalah salah satu pengurus koperasi Senopati mengungkapkan bahwa masa kejayaan batik tidak secemerlang dulu. Hadirnya batik printing yang merajai pasar memberikan pengaruh pada produksi batik lokal. “Dulu anggota koperasi ini (Koperasi Senopati) berjumlah 300-an, tetapi kini menyusut hampir dari setengahnya,” papar Bintarto.

Continue reading

Indonesia Negara Duplikat

Pantas saja kita menjadi negara duplikat, Lha benderanya nya aja bendera duplikat. -Tau dari mana?- coba ingat ingat para komentator TV yang menyiarkan upacara detik-detik proklamasi berkata ; sang presiden menyerahkan duplikat bendera pusaka merah putih.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyerahkan duplikat Bendera Pusaka kepada Arty Ardhila (kanan) untuk dikibarkan pada upacara Peringatan Hari Kemerdekaan RI ke 65 di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/8). FOTO ANTARA/Pandu Dewantara (ini tags yang dilampirkan dibawah foto oleh seorang pewarta foto dari antara)

Persepsi masyrakat pun mempunyai kemiripan yang senada, yakni memaknai bendera yang dikibarkan dan dihormati oleh presiden, tamu negara dan para peserta upacara di Istana Merdeka hanyalah BENDERA DUPLIKAT. hahahahahahaha -kasian deh lo menghormati yang dupliat-

Lantas yang mana yang asli? yang asli itu ada di dalam sanubari kita. Apa susahnya sih menyebut “Presiden menyerahkan bendara Indonesia untuk dikibarkan” atau “menghilangkan kata embel2 duplikat pada sang saka merah putih itu”

Jadi kan lebih enak di dengar. tidak ada yang asli atau palsu, tapi yang ada hanya satu Bendera yaitu Bendera Indonesia.

Dirgahayu Indonesia. Semoga tetap Merdeka

Untuk Penjaga Hobart

Malaikat Biru Kota Hobart

Musim gugur mencopot daun – daun .Malaikat biru  yang tabah di segala musim
menyanyikan nina bobo bagi gunung penjaga gerbang kota
Burung – burung laut, merpati – merpati mendekat saat ditembangkannya ayat – ayat hidup
Maka keriangan bagi semua

Tapi siapa meratap di kejauhan?
Malaikat – malaikat baru telah lahir dari legam tubuh hangus
Musim gugur yang lain melekat daun telinganya ke pasir Continue reading

Hirarki Makanan dan Sesat Pikir

Ha, mengapa saya memberi judul demikian di catatan saya? Simak dulu sebait kalimat ini:
Spageti lebih enak dari pada Bakmi Jawa, atau Lasagnya lebih enak dari pada Soto Lamongan.

Ini dia, saya menyebutnya dengan Hirarki Makanan dan Sesat Pikir. Mengapa?
Karena jika kita telah membandingkan antara Spageti dan Bakmi Jawa, demikian juga antara Lasagnya dengan Soto Lamongan, dan menambahkan embel-embel “lebih enak dari pada” maka saya bilang, “sesat pikir”

Kenapa bisa sesat pikir? Begini, jika kita hanya menilai sebuah makanan dari hasil akhir berupa sebuah kecapan rasa, maka kita akan tercerabut dari apa yang dinamakan dengan seporsi makanan. Sebuah kebutuhan dasar manusia berupa makanan, mempunyai serangkaian proses dalam mengharmoniskan dan memadu padankan – atau biasa disebut dengan memasak. Sehingga dalam mengecap seporsi makanan, tidak begitu saja bisa hanya diganjar dengan kata enak atau tidak enak.
Lantas bagimana penilaian kita terhadap seporsi makanan itu tadi? Membanding-bandingkan makanan juga tidak bisa kita hindari.

Begini, akan lebih adil jika kita mengurai sebuah rasa dalam menu/porsi makanan itu tadi. Saya sudah katakan bahwa dalam seporsi makanan terjadi proses padu-padan dan harmonisasi terhadap bahan, bumbu dan pengolahan. Jadi jika ingin menilai sepiring bakmi jawa dan spageti, lebih baik jika kita kecap dalam-dalam setiap sendok apa yang kita makan. Nah, barulah kita urai satu persatu apakah takaran lada, bawang putih, dan mie sudah sesuai. Jika perlu pejamkan mata anda dan rasakan kenikmatannya.

Proses pengecapan rasa ini, juga mengingatkan saya pada Bondan Winarno yang akrab dengan sapaan Mak Nyus-nya. Pak Bondan bisa berlaku “fair” terhadap apa yang dirasakannya. Ia uraikan satu persatu rasa lalu memadukannya dengan yang lain, ia uraikan sebuah rasa dalam sapuan sendok yang masuk ke dalam mulutnya. Layaknya sebuah analisis, pertama dipecahkan dan dicacah terlebih dahulu sebuah objek, setelah ketemu kesimpulan percacahan, baru ia rangakai jawaban yang saling berdiri sendiri menjadi sebuah kesimpulan yang utuh, tidak terpotong-potong.

Saya juga sebal melihat seorang presenter acara kuliner yang menilai makanan dari dengan acungan jempol dan kalimat “enak pemirsa”. “Apanya yang enak?”

Lalu apa yang dimaksud dengan sesat pikir dalam mengecap rasa? Ya itu, membandingkan spageti lebih enak dari pada bakmi jawa. Bisa saja kita tidak bisa memberikan penilaian secara mandiri (objektif) -bukankah urusan selera, apalagi dalam soal rasa, adalah termasuk dalam ranah subyektif? Nah lho?- karena dengan sedikit iming-iming yang merasuk dalam ketidaksadaran kita -melalui iklan dll- ditanamkan bahwa dengan memakan seporsi spageti akan membuat kita lebih dari pada yang lain -terutama nasi kotak (besek) yang diberikan pada saat hajatan atau pengajian.

Sesat pikir yang paling parah menurut saya adalah membandingkan makanan enak atau tidak melalui parameter berapa keping atau lembar uang yang kita keluarkan untuk menebus sejumput makanan.

Pamungkas dari catatan saya, jika ingin konsekuen menjunjung nilai-nilai kecapan rasa maka pakailah logika dan juga perasaan. Setelah penilaian dengan runtutan logika yang rapih sudah dilakukan, maka kita boleh melengkapinya dengan alat lain yakni intuisi untuk menilai seporsi kecapan rasa.

Sekarang, mari makan! Hap