Ha, mengapa saya memberi judul demikian di catatan saya? Simak dulu sebait kalimat ini:
Spageti lebih enak dari pada Bakmi Jawa, atau Lasagnya lebih enak dari pada Soto Lamongan.
Ini dia, saya menyebutnya dengan Hirarki Makanan dan Sesat Pikir. Mengapa?
Karena jika kita telah membandingkan antara Spageti dan Bakmi Jawa, demikian juga antara Lasagnya dengan Soto Lamongan, dan menambahkan embel-embel “lebih enak dari pada” maka saya bilang, “sesat pikir”
Kenapa bisa sesat pikir? Begini, jika kita hanya menilai sebuah makanan dari hasil akhir berupa sebuah kecapan rasa, maka kita akan tercerabut dari apa yang dinamakan dengan seporsi makanan. Sebuah kebutuhan dasar manusia berupa makanan, mempunyai serangkaian proses dalam mengharmoniskan dan memadu padankan – atau biasa disebut dengan memasak. Sehingga dalam mengecap seporsi makanan, tidak begitu saja bisa hanya diganjar dengan kata enak atau tidak enak.
Lantas bagimana penilaian kita terhadap seporsi makanan itu tadi? Membanding-bandingkan makanan juga tidak bisa kita hindari.
Begini, akan lebih adil jika kita mengurai sebuah rasa dalam menu/porsi makanan itu tadi. Saya sudah katakan bahwa dalam seporsi makanan terjadi proses padu-padan dan harmonisasi terhadap bahan, bumbu dan pengolahan. Jadi jika ingin menilai sepiring bakmi jawa dan spageti, lebih baik jika kita kecap dalam-dalam setiap sendok apa yang kita makan. Nah, barulah kita urai satu persatu apakah takaran lada, bawang putih, dan mie sudah sesuai. Jika perlu pejamkan mata anda dan rasakan kenikmatannya.
Proses pengecapan rasa ini, juga mengingatkan saya pada Bondan Winarno yang akrab dengan sapaan Mak Nyus-nya. Pak Bondan bisa berlaku “fair” terhadap apa yang dirasakannya. Ia uraikan satu persatu rasa lalu memadukannya dengan yang lain, ia uraikan sebuah rasa dalam sapuan sendok yang masuk ke dalam mulutnya. Layaknya sebuah analisis, pertama dipecahkan dan dicacah terlebih dahulu sebuah objek, setelah ketemu kesimpulan percacahan, baru ia rangakai jawaban yang saling berdiri sendiri menjadi sebuah kesimpulan yang utuh, tidak terpotong-potong.
Saya juga sebal melihat seorang presenter acara kuliner yang menilai makanan dari dengan acungan jempol dan kalimat “enak pemirsa”. “Apanya yang enak?”
Lalu apa yang dimaksud dengan sesat pikir dalam mengecap rasa? Ya itu, membandingkan spageti lebih enak dari pada bakmi jawa. Bisa saja kita tidak bisa memberikan penilaian secara mandiri (objektif) -bukankah urusan selera, apalagi dalam soal rasa, adalah termasuk dalam ranah subyektif? Nah lho?- karena dengan sedikit iming-iming yang merasuk dalam ketidaksadaran kita -melalui iklan dll- ditanamkan bahwa dengan memakan seporsi spageti akan membuat kita lebih dari pada yang lain -terutama nasi kotak (besek) yang diberikan pada saat hajatan atau pengajian.
Sesat pikir yang paling parah menurut saya adalah membandingkan makanan enak atau tidak melalui parameter berapa keping atau lembar uang yang kita keluarkan untuk menebus sejumput makanan.
Pamungkas dari catatan saya, jika ingin konsekuen menjunjung nilai-nilai kecapan rasa maka pakailah logika dan juga perasaan. Setelah penilaian dengan runtutan logika yang rapih sudah dilakukan, maka kita boleh melengkapinya dengan alat lain yakni intuisi untuk menilai seporsi kecapan rasa.
Sekarang, mari makan! Hap